Semua memang berawal dari mengapa kita harus membaca kemudian memikirkan hal yang telah kita jalani. Sebenarnya ada apa sih yang ada di bumi ini? Sekedar berjalan? Sekedar menikmati keindahan alam? Atau untuk beribadah kepada Tuhan? Pernahkah kita memikirkan hal ini, yang dalam pandangan orang merupakan pandangan yang gila? Mengapa kita sangat takut dengan orang yang pikirannya sangat jauh, mengapa kita selalu sinis terhadap orang yang selalu berpikirnya panjang dan nyeleneh? Bukankah itu proses dari menemukan kebenaran?
Kita coba tarik satu kasus yang terjadi dalam pengalaman saya, contoh kecil yang kemudian menjadi prinsip hidup saya:
"Jangan tidur sebelum tidur, jangan bangun sesudah bangun."
Maksudnya, dalam perjalanan yang panjang selama beberapa tahun setelah lulus sekolah, saya memulai langkah lebih luas dan jauh, di mana semua yang aku pikirkan sangat jauh dengan yang dipikirkan orang lain. Kala itu, saya sering menemukan sebuah ruang kosong yang membangkitkan gairahku untuk terus mencari kehampaan. Berkali-kali saya mencoba untuk bergerak menuju ruang hampa itu, di mana banyak sekali hambatan seperti mengurangi nafsu dunia, mensiniskan perkara dunia yang terlalu
glamour dan
fashionable yang seharusnya aku benci dan sangat dijauhi, dan pandangan materialisme yang mencekoki otak manusia supaya terus menerus mencari bukan menggali, walaupun sebenarnya hal itu sangat dibutuhkan.
Dari situlah, kehampaan diawali dengan sastra. Menulis adalah hal yang dilakukan karena ruang akal manusia sangatlah terbatas, maka perlu ditulis untuk diabadikan dan diingat. Dari situlah aku mulai menulis puisi, sering berdiskusi dengan orang, menggali ide dan gagasan yang disampaikan banyak orang, meditasi ketenangan, menantang diri untuk tidak nafsu terhadap apapun, dan hasilnya bisa dibilang hampir baik.
Mulai dari sastra, saya mengenal bahwa estetika dan esensi hidup hanyalah semu dan hampa. Keindahan dunia hanyalah ilusi yang harusnya dijauhkan, yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Kebahagiaan yang terus dicari ternyata hanyalah sebuah bumerang yang 80% akan mencelakaiku. Saya pun berpandangan bahwa kalau kita hidup hanya untuk bekerja, makan dan ibadah, lalu esensi untuk kenikmatan itu dimana? Nilai ekonomisnya memang nihil dari pandanganku ini, bahkan saya dianggap tidak waras dan malas karena hanya mengandalkan tulisan-tulisan yang tak bermakna, kata mereka. Saya pun tak pernah mundur, setiap hari menuliskan beberapa puisi, beberapa kutipan, hingga menuliskan pemikiran yang menjadi esai. Bahkan, ketertarikan pada esai adalah melatih untuk kritis dan memaki diri sendiri, kenapa sih aku harus putus kuliah? Kenapa aku harus diputuskan cinta? Kenapa aku dihancurkan, kenapa harus ditenggelamkan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membayangiku, seakan-akan menghapus jejak langkahku untuk terus menemukan ruang hampa.
Sudah 3 bulan, aku jalani hidup secara bebas, ternyata output yang aku dapat tidak terlalu besar, nafsu birahi pada ekonomi terlalu besar bahkan sampai ingin membunuhku. Seakan-akan dia mencaciku,
'Untuk apa sih kamu menulis! Tidak ada gunanya!', 'Kamu gila banget! Hidup itu butuh uang, emangnya kamu nggak mau uang! Bodoh banget sih!'. Aku tak mempedulikan itu, untuk apa uang tanpa kebebasan, untuk apa uang tanpa diberi kenikmatan yang lain, dan untuk apa uang harus diagungkan melebihi Tuhan?
Pesakitan itu mulai muncul, hinaan serta pujian menjadi satu dan saya anggap sebagai hal yang biasa saja. Bahkan, tak seharusnya saya telan mentah-mentah, ada makna di balik itu semua.
Gagasan demi gagasan telah menjadi puisi, pemikiran yang selalu terngiang menjadi sebuah kata-kata semangat yang mencambuk saya untuk terus melangkah. Bagaimana sih Tuhan menciptakan semua ini dengan begitu sempurna? Bagaimana sih Tuhan menciptakan saya yang terlalu gila kepada cinta Tuhan? Bagaimana sih saya bertemu Tuhan? Bagaimana jika aku ingin memeluk-Nya dan kurasakan tiap kesucian cinta-Nya Yang Maha Agung?
Saya ingin, seandainya saja Tuhan bisa saya ajak untuk berdiskusi dan bertukar kepuitisan sebuah cinta, saya ingin menyampaikan bahwa cinta adalah Tuhan itu sendiri. Bahwa Rohman Rahim-Nya Tuhan adalah Dia Yang Maha Besar.
Tetapi, mengapa sih saya tak bisa menyampaikan ini semua, hanya lewat catatan ngawur ini bisa saya sampaikan, barangkali saja saya mampu atas nama Tuhan, atas cinta dan kasih sayang Tuhan untuk memerdekakan diri dari indahnya dunia. Dunia terlalu indah, dan keindahan adalah kehampaan yang tak berwujud dan tak terdefinisikan. Dan, Tuhan adalah Pencipta Kehampaan itu, yang selalu bersemayam dalam jiwa-jiwa yang hampa dan tenang.
Ketika semuanya membutuhkan sesuatu yang pasti, hanya Tuhan yang memiliki. Ketika semuanya hanya mau kepastian tanpa secercah pengorbanan yang pasti, maka Tuhan sedang menunggu. Ketika kita selalu manja kepada Tuhan, lalu Tuhan tidak mengabukkan dan kita memarahi-Nya, pantaskah kita diciptakan sebagai manusia?
"Merdekalah manusia dengan membaca dan berpikir! Dan beruntunglah manusia yang memerdekakan dirinya dari keindahan dunia."
Arief Santoso
Gaskan mamang
ReplyDeleteTerima kasih. Mohon dukungannya yaa kawan, biar bisa menuliskan pemikiran yg gila lagi. Heuheuheu ...
Delete