Kembali lagi merenungi hari-hariku di kota kelahiran ibu, aku meresapi semua yang sudah aku jalani selama berbulan-bulan lamanya. Adakalanya bosan, jenuh dan bahkan 50-50 antara suka dan duka, tetapi aku bisa menaklukkan semua luka dan suka yang kurasakan, entah dari lingkungan pertemanan, kampus atau bahkan kawan sejalan yang memang membuatku merasa bahwa inilah rumah yang baru untukku.
Hari-hari yang kujalani dari akhir 2019 sampai saat ini, rumah yang kubangun hpir mendekati 40%. Maklum, adaptasi dan peralihan dari pemikir sampai menjadi orang yang bijaksana memanglah susah, apalagi dipenuhi benturan-benturan yang tidak sesuai denganku, misalnya dari adat, agama dan logat bahasa yang tak sepenuhnya aku kuasai. Namun, belajar sesuatu yang baru adalah hal yang aku suka sejak dulu. Aku mulai belajar memahami cara berpikir bijak, cara berinteraksi dengan bagus dan satu lagi yang tak ingin aku akhiri; belajar menjadi diri sendiri.
Ya, keilmuan dan wawasan telah aku pelajari sejak di Garut, Karaaang, Cikarang sampai Ciamis, tapi lain halnya dengan cara pandang yang membuatku kagum dengan Tanah Sunda. Ada hal yang sangat menarik dan menakjubkan, yaitu tentang tingginya nilai rendah hati dan kepasrahan kepada Tuhan. Aku mulai mempelajari itu, sampai aku benar-benar mampu untuk melakukannya. Awalnya memang sulit untuk berpasrah atas usaha yang kulakukan, aku hanya ingin menyatakan bahwa yang sudah aku lakukan memang begini dan hasilnya pun semoga bertambah. Namun, orang Sunda tidak berpikiran seperti itu, salah satu temanku pernah bilang padaku; "Lakukan apa yang kau suka, lalu serahkan semuanya kepada Tuhan. Urusan diterima atau tidak, diberi imbalan atau tidak, biar Dia yang tentukan." Aku mulai gemetar, aku mulai ingin tahu berapa yang akan aku terima, apakah banyak atau sedikit, apakah sesuai dengan yang aku lakukan atau tidak, ternyata memang sudah ada porsi dan manfaatnya. Aku rasa kalian juga akan merasakan bagaimana nikmatnya berbuat dan dibalas.
Mempelajari sejarah, mempelajar kebatinan orang Sunda, mempraktikkan nilai-nilai kehidupan yang sejati, mengkolaborasikan spiritual Jawa-Sunda adalah makanan yang harus kusantap setiap harinya. Apalagi ditambah dengan teman-teman yang menakjubkan dan banyak sekali yang sejalur denganku. Mulai dari sastra, kritikus, seniman, sejarawan, tata kelola jiwaraga dan banyak sekali yang kutemukan disini. Berbagai pengalaman telah aku dapat, sampai suatu ketika, dua bulan yang lalu kira-kira, aku menemukan banyak sekali ide dan gagasan untuk menuliskan karangan yang kutulis disini, dimana semua gagasan tersebut tidak sanggup aku tampung di kepala dan akhirnya berceceran di noteplan dan kertas usang yang biasa aku gunakan untuk menuliskan puisi.
Gagasan-gagasan tersebut mulai tersusun disini, di blog-ku yang sebenarnya tak tahu arahnya. Tetapi, ada saja yang menunggu dan ingin membaca tulisanku ini, karena blog-ku ini memang real dari pengalamanku sehari-hari. Terima kasih sudah berkenan membaca dan menilai karangan random ini.
Ingin aku ceritakan kepada pembaca disini, bahwa kesejatian hidup bukanlah dari berapa banyak usahamu, berapa banyak yang kau dapat, atau berapa yang harus kamu kami keluarkan untuk memuaskan dirimu. Tetapi, apa yang sudah kami bagi haruslah kamu bagikan kepada yang lain, hal itu bukan menjadi pengurangan fari dirimu tapi justru semakin bertambah apa yang kau miliki.
"Tak mesti harus sempurna untuk menjadi sempurna, lengkapi dulu apa yang ada disisimu kemudian kau akan dibangun oleh apa yang sudah kau bagi." --- Martin K. Junaedi
Goresan dan tulisan yang sudah terkumpul sejak lama ternyata menemukan rumahnya. Dan disinilah aku akan menetap, entah sementara atau selamanya, karena kemungkinan aku akan lebih mengembara dan terus belajar di kota-kota manapun termasuk ke pelosok desa yang mestinya aku jamah dan aku ambil ilmu dan semua pelajaran disana. Aku memang bukan orang yang puas akan hasil, tetapi setelah berhasil aku akan menantang apa yang belum aku dapatkan, sampai mati-matian aku terus menggali potensi dan menemukan siapa diriku sebenarnya.
Sebenarnya, masih banyak yang harus aku pelajari, bukan hanya dari Jawa dan Sunda, rencananya aku ingin belajar kepada orang Bugis dan Maluku untuk mempelajari arti kesabaran, ketabahan dan kebijaksanaan dalam menerima kehidupan yang sementara. Semoga saja terwujud, dan akhirnya aku dapat mengarungi semuanya dengan genggaman tangan dan pelukan hangat kepada orang-orang yang sudah mengajariku.
Comments
Post a Comment