MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

Image
Literasi saat ini mulai digemakan kembali dan akhir-akhir ini banyak sekali penggagas sebuah ruang untuk mempelajari hal literasi. Ada ratusan groupchat WhatsApp dan Telegram Messenger, bahkan sampai merebak ke Instagram dan Facebook. Dari sekian banyaknya ruang literasi ini juga banyak sekali di antara mereka yang mengadakan event, seminar bahkan sampai ada yang membuat penerbitan indie. Suatu pencapaian yang sangat luar biasa, dan mestinya apresiasi atas karya sastra yang dilahirkan menuai banyak prestasi baik dari ruang literasi maupun individunya. Kemampuan tiap individu sangat diasah sempurna di ruang literasi tersebut, dan berbagai skill atau bakat yang tidak muncul di kala sekolah ternyata bisa bermunculan di ruang ini. Dan faktor merebaknya literasi ini adalah terbukanya ruang menulis untuk siapapun. Jadi, ada platform yang benar-benar menerima tulisan setiap individu untuk diterbitkan di media online dan media sosial. Ini menjadi titik terang bagi para muda-mudi yang hobi men...

AKU MENULIS INI KETIKA TERINGAT PERTENGKARAN SEBAB ROKOK


"Saya sempat bingung mengapa mayoritas perempuan anti dengan rokok, padahal sejenisnya pun ada yang merokok, atau melihat pasangannya yang tak pernah bisa berhenti untuk merokok. So, why about this? You can tell me about this!"

---
Perihal rokok, cinta dan perempuan terlalu masif untuk dibahas pada masa kini, dimana kasus perempuan dan rokok hanya bersimpangsiur bahkan melahirkan sebuah perbandingan yang sepihak dengan cinta.

Seorang perokok yang mencintai perempuan akan menimbulkan kritik kehidupan, terutama kepada perempuan yang tidak menyukai rokok. Padahal, secara riset kesehatan dari pelbagai sumber, rokok memiliki zat adiktif dan nikotin, yang ternyata dapat meredamkan emosi dan amarah seseorang ketika dalam keadaan bentrok atau sedang marah. Bila kita perhatikan, banyak cekcok antara kaum adam dan hawa bisa dilenyapkan dengan sebatang rokok. Tak percaya? Coba deh lelakimu suruh merokok, dan deskripsikan apa yang ia rasakan.

Dan membahas soal cinta dan perempuan, lelaki tak akan membahasnya secara detail dan rumit, asal cocok dan asyik, lelaki akan tertarik untuk menjalin hubungan.

Jangan sampai ada satu hal bisa mengubah esensi hubungan itu, misalnya sebatang rokok, untuk apa mempermasalahkan rokok dengan yang tak sejalur, untuk apa memperpanjang masalah rokok, kesehatan dan cinta. Apakah orang yang merokok tidak mencintai diri sendiri? Tidak juga. Apakah orang yang tak mencintai diri sendiri tidak pula mencintai pasangannya? Tidak juga. Itu hanya ilusi penghancuran dan pembobrokan akal sehat, yang biasanya ditujukan untuk kaum-kaum yang kurang luas pemikirannya, yang terlalu pendek dalam menyimpulkan keputusan.

Saya mencoba tidak memihak pada siapapun, seandainya lelakimu merokok itu masih bisa ditoleran jika tanggungjawab sebagai pasanganmu terpenuhi, yang tak bisa ditolerir adalah ketika lelakimu gemar merokok tetapi tak bisa membuatmu bahagia dan sejahtera. Perihal cinta dan perempuan, jangan semena-mena untuk menjudge orang yang merokok, cinta tak ada hubungannya dengan rokok, apalagi seorang perempuan. Perempuan pun ada yang merokok, jadi tak ada salahnya untuk tidak menghakimi seorang yang merokok, karena itu bersifat universal dan bahkan menjadi urgent di negeri tercinta ini.

Rokok menyelamatkan mereka yang dibiayai BPJS dan memfasilitasi pemerintah, pun meningkatkan pemasukan pajak dan bea cukai negara, apakah rokok harus dimusnahkan? Sungguh. Bagiku itu hal yang sangat sulit terjadi, dan saya yakin yang hendak menghapus adanya rokok adalah segelintir orang yang tak suka dengan rokok dan suka menghasut, menjudge, mencaci orang yang sudah sejak lama menyelamatkan otakmu dari ilusi-ilusi yang tak karuan serta manipulasi yang irasional.

Berbahayakah sebatang rokok? Tidak, jika dosisnya tepat dan tidak mengganggu kehidupan orang lain, seperti mencuri pernafasan orang lain atau bahkan mengganggu kenyamanan khalayak umum. Merokok ada tempatnya, merokok ada saatnya, dan merokoklah dengan santun dan santuy!

Ditulis oleh Arief Santoso, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Ditulis di Sukabumi, 7 Februari 2020

Comments

Popular posts from this blog

MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

RUMAH YANG SEBENARNYA