Nyatanya, aku pernah melakukan hal yang tak biasa, yang menjadikan banyak orang mengira bahwa akulah si aneh dan pemboros waktu untuk hal-hal yang tidak penting-penting amat. Namun, asumsi itu aku patahkan dengan hal yang justru membuat orang menjadikanku orang yang sangat langka.
Nyatanya, aku pernah melakukan hal nyata yang tak terbayangkan, dimana hal tersebut bukan spesifikasi orang banyak dan justru membingungkan bahkan memusingkan. Namun, kejemuan dan ketidakpasan persepsi tersebut aku runtuhkan dengan hal yang istimewa dan menjadikan ladang amal serta finansial.
Nyatanya, aku pernah mengalami pesakitan yang cukup berat, dimana banyak orang peduli terhadapku, tetapi ada saja yang memanfaatkan bahkan mengacuhkan. Namun, perihal pesakitan kujadikan sebuah cermin yang memantulkan banyak cahaya yang menyelimuti jiwaku, dan menjadikanku orang yang tak bisa dikalahkan secara mental, bahkan dengan dogma dan hasutan yang membuat amarahku berapi-api.
Awalnya hanya sebuah keisengan yang membuat waktuku habis terkuras, sampai semua yang dianggap penting justru kubuat sebuah sampingan yang bisa dicari pada suatu hari nanti.
Awalnya hanya ketidakteraturan hidup yang kubuat sendiri, manajemen waktu yang kurang tepat, manajemen mood yang tidak jelas, bahkan sampai kontrol diri pun tidak pernah kuperhatikan. Di balik itu, ada passion dan semangat yang harus ditempuh, di-push habis-habisan, memforsir diri, menahan kesabaran dan ketelatenan, serta meningkatkan daya serap otak dan jiwa agar dapat menjalankan perubahan ini dengan baik.
Awalnya hanya merespon otak agar lebih aktif, ternyata lebih garang dari yang kukira. Puluhan buku, ratusan artikel, sampai e-book yang tak terhitung jumlahnya berhasil aku lahap selama satu tahun. Beruntung, dari hasil kerja keras yang menggila itu aku mampu menuliskan enam judul buku. Lima judul berisi kumpulan puisi dan satu hanya memoar hidup yang belum kusambung sampai hari ini.
Aku kira semuanya akan sia-sia. Aku kira semuanya menjadi bualan belaka bahwa menjadi seorang penulis, analis, editor fiksi juga mentor kepenulisan itu satu pekerjaan orang payah, tidak rasional dan juga tidak mendatangkan uang. Tetapi, perlu aku sadari, menjadi seorang penulis bukan hanya nilai material yang kita dapat, tetapi nilai guna serta nilai diri pribadi yang sangat mempengaruhi hidupmu. Pun jika ditambah dengan adanya satu karya tulis yang berhasil dibukukan, entah seperti apa nantinya.
Mentor kepenulisanku pernah bilang, bahwa menjadi penulis adalah sebuah penghargaan tertinggi di era sekarang. Merupakan sebuah kebanggaan terbesar dari apapun, karena mereka bekerja menggunakan insting, softskill serta multi-fungsi. Jika semuanya diuangkan, maka siapa yang berani membayar mahal sofskill? Siapa yang berani membayar mahal insting, sampai seseorang yang memiliki nilai guna dan multi-fungsi yang tak dapat diragukan lagi? Aku yakin, pajak negara pun tak bisa menutupi itu, devisa negara dengan angka di atas US$ 800 pun bukan harga satu karya esainya. Bahkan, satu negara pun tidak sanggup membeli jiwa raganya yang penuh dengan esensi dan filosofi hidup yang tak bisa dibendung keberadaannya di dunia finansial.
Jika saja, satu orang penulis yang memiliki insting kuat, daya serap yang baik, unggul dalam tata bahasa dan intelektualitas yang sangat kaya, bukan tak mungkin ia bisa membeli sepertiga dunia. Karena apa, kekuatan penulis hanya ada di insting-nya, dan aku yakin insting tidak dimiliki oleh sembarang orang. Ada latihan khusus juga treatment yang terkenal sulit.
Jadi, siapkah Anda mengisengkan diri untuk mencapai jatidiri sejati? Siapkah Anda mengasingkan diri dari dunia yang penuh dengan gelontoran uang, dan Anda tidak dapat memuncaki tingkat atas seluruh manusia? Langkah awalnya; menulislah apa yang ada dalam pikiranmu dan hatimu.
Arief Santoso
Sukabumi, 9-13 Februari 2020; 13.21 WIB
Kereeennnn... Good luck
ReplyDelete