Sebelumnya, aku tak tahu arah hidupku setelah berperan sebagai lelaki yang dimilikinya. Aku pun tak tahu kemana aku harus melangkah, setelah beberapa waktu lalu memoar pisah yang membuatku pasrah. Aku juga tak tahu, ke mana aku harus pulang dan harus berkelana, selain tempat sunyi yang terus berseteru dengan peliknya kalbu. Entah, sebelumnya aku tak tahu.
Aku tak tahu keinginan orang banyak tentang finansial dan sosial, sehingga aku hanya menyendiri dengan sikapku yang frontal. Aku juga tak tahu ketidakpedulian pada hidup ini membuatku senang, bahkan kehidupan yang layak pun terasa ingin kubuang. Aku tidak paham dengan pemikiranku tentang ketidakpercayaan pada pembicaraan, yang justru membuatku semakin tertekan akan kehidupan yang katanya harus mendahulukan kata mapan. Entah, sebelumnya aku tak tahu.
Bahkan, seringkali aku tak tahu, keasyikan dan kenikmatan secara bebas itulah yang aku dapatkan, dari jejak langkahku menyusuri jalanan, membagi wawasan dan pengalaman, sampai menghibur kerabat dengan puisi yang kutulistangan. Sebenarnya, kebebasan-lah yang membuatku semakin dewasa untuk selektif, menyadarkanku agar kreatif dan inovatif, karena hidup ini tentang mencari alternatif dan terus-menerus aktif.
Entah, sebelumnya aku tak tahu, bagaimana menyenangkan orang, terutama tentang kekasih tersayang. Tak tahu pula bagaimana cara meluluhkan hati penuh kesopanan dan kenyamanan, tak tahu arti kata cinta yang justru menyakitkan, dan juga arti keluarga yang seharusnya saling menguatkan. Entah, sebelumnya aku tak pernah paham keadaan.
Sebelumnya pula, aku terlalu frontal dan anarkis, sehingga nasibku tragis dan teriris. Aku terlalu bebas untuk memilih, hingga keadaanku hari ini terada perih. Aku terlalu geram dengan keadaan pembedaan, sehingga melahirkan kepribadian yang tak bisa dilawan. Aku terlalu hidup untuk kebebasan, sehingga aku tak mampu lagi mengurus diriku untuk bertahan, kecuali dengan menyelamatkan keadaan orang untuk hidup yang menyenangkan.
Terakhir kali, kusudahi semua yang bersifat duniawi, yang materialistis hingga membuatku mati. Kusudahi semua kebingungan akan melangkah, dan membunuh rasa pasrah dan membenahi salah. Kusudahi segenap rasa yang tak kunjung damai, hingga suatu saat nanti kunikmati dengan piawai. Kulunasi segala ketidakpercayaan dan ketidakpedulian yang berbahaya, sehingga menjalani hidup di zaman ini terasa lebih bahagia.
Sebelumnya aku tersadarkan, bahwa kehidupan adalah ilusi yang mempermainkan. Bahkan, segalanya adalah pelapukan akal sehat yang digerus untuk mematikan dan menyalahkan. Dan, aku lunas sudah, kini aku terus berjalan penuh keyakinan; aku setia didampingi Tuhan.
Ditulis oleh Arief Santoso; mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi jurusan Akuntansi.
Sukabumi, 7 Februari 2020
Comments
Post a Comment