MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

Literasi saat ini mulai digemakan kembali dan akhir-akhir ini banyak sekali penggagas sebuah ruang untuk mempelajari hal literasi. Ada ratusan groupchat WhatsApp dan Telegram Messenger, bahkan sampai merebak ke Instagram dan Facebook. Dari sekian banyaknya ruang literasi ini juga banyak sekali di antara mereka yang mengadakan event, seminar bahkan sampai ada yang membuat penerbitan indie. Suatu pencapaian yang sangat luar biasa, dan mestinya apresiasi atas karya sastra yang dilahirkan menuai banyak prestasi baik dari ruang literasi maupun individunya.

Kemampuan tiap individu sangat diasah sempurna di ruang literasi tersebut, dan berbagai skill atau bakat yang tidak muncul di kala sekolah ternyata bisa bermunculan di ruang ini. Dan faktor merebaknya literasi ini adalah terbukanya ruang menulis untuk siapapun. Jadi, ada platform yang benar-benar menerima tulisan setiap individu untuk diterbitkan di media online dan media sosial. Ini menjadi titik terang bagi para muda-mudi yang hobi menulis atau bahkan semua kalangan yang ingin belajar menulis, namun bila kita amati lebih dalam, apakah mereka tahu tentang literasi itu sendiri atau hanya mengetahui dasar literasinya saja yakni membaca dan menulis?



Perihal kesadaran mengetahui tentang literasi kembali pada individunya, tetapi sekilas ingin membahas bagaimana supaya mereka tahu dan meyakinkan diri bahwa mereka bisa memanfaatkan alat literernya. Misalkan mereka suka membaca berita, status, story media sosial dan apapun sumber bacaannya, mencoba untuk membawa mereka kepada pola pikir yang aktif dan reaktif untuk menuliskan beberapa kalimat yang mereka baca. Ini akan membawa dampak yang baik dalam proses literasi, karena outputnya langsung dipraktikkan dan terekam secara sistematis. Mungkin saja kita belum sadar, kita memiliki mata untuk membaca, pikiran dan hati untuk memproses, sehingga ada dorongan dalam batin; tulis sebelum hilang atau bagikan di linimasa.

Secara pribadi sangat menyayanhkan ketika penulis muda saat ini sering melakukan self-claimed sebagai penulis sesungguhnya dan bertindak sebagai superior layaknya legenda dalam bidang literasi. Padahal sebenarnya jika dibahas secara psikologis, semakin banyak pengetahuan dalam satu ilmu, bahkan sampai berderet ilmu, dorongan untuk rendah hati pada diri manusia akan berefek besar. Karena secara falsafah Nusantara, semakin berisi semakin tunduk, tetapi yang dilakukan masyarakat modern --dalam bidang literasi dan sastra-- tidak mempresentasikan bahwa output pembelajaran kedua ilmu bersifat konstruktif terhadap kerendahan hati. Seyogyanya, sastra itu mengajarkan pada keindahan dan kelegowoan, dimana ketika seseorang mempelajari ilmu sastra mestinya semakin besar dorongan ingin membagikannya secara meluas. Kalau sudah self-claimed begini, terus outputnya akan berbahaya dan tidak bisa membedakan kritik dan bad judgement. Kita seakan menyetir mobil tetapi memaksakan memiliki SIM dengan cara apapun.

Dalam pengembangan diri yang didapat dari belajar sastra dan literasi sebaiknya diresapi, karena perihal ini sangat penting agar menjadikan penulis yang mempunyai sikap sempurna dan menyempurnakan. Kita tidak bisa semena-mena harus diikuti oleh banyak orang, kita juga tidak bisa memaksakan kehendak orang lain yang berbeda dengan kita. Justru penulis itu kooperatif sifatnya, dia mampu beradaptasi dan kompromi dengan keadaan yang menurutnya berbeda dengan yang dimilikinya. Kemudian, satu hal yang tidak dirasakan dari nikmatnya berliterasi adalah membentuk karakter yang santun dan penuh kesopanan dalam berbicara dan berinteraksi. Perihal sopan santun memang secara tidak langsung dirasakan, namun manfaatnya luar biasa ketika kita sering menggunakannya. Maka dari itu, luapkan output dalam belajar dan jadilah manusia yang utuh berdasar Rahman Rahim Tuhan.

Opini ini memang datang dari keresahan pribadi terhadap penulis yang self-claimed, kemudian banyaknya komunitas yang belum bergerak di bidang output, perlahan tapi pasti akan terus melahirkan penulis muda berbakat dan mendunia. Tidak harus berlebih dalam belajar, tetapi harus ada feedback dalam belajar dan terus istiqomah dalam berkarya. Salam literasi, tetap sehat dan bahagia!

Comments

Popular posts from this blog

AKU MENULIS INI KETIKA TERINGAT PERTENGKARAN SEBAB ROKOK

RUMAH YANG SEBENARNYA