MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

Image
Literasi saat ini mulai digemakan kembali dan akhir-akhir ini banyak sekali penggagas sebuah ruang untuk mempelajari hal literasi. Ada ratusan groupchat WhatsApp dan Telegram Messenger, bahkan sampai merebak ke Instagram dan Facebook. Dari sekian banyaknya ruang literasi ini juga banyak sekali di antara mereka yang mengadakan event, seminar bahkan sampai ada yang membuat penerbitan indie. Suatu pencapaian yang sangat luar biasa, dan mestinya apresiasi atas karya sastra yang dilahirkan menuai banyak prestasi baik dari ruang literasi maupun individunya. Kemampuan tiap individu sangat diasah sempurna di ruang literasi tersebut, dan berbagai skill atau bakat yang tidak muncul di kala sekolah ternyata bisa bermunculan di ruang ini. Dan faktor merebaknya literasi ini adalah terbukanya ruang menulis untuk siapapun. Jadi, ada platform yang benar-benar menerima tulisan setiap individu untuk diterbitkan di media online dan media sosial. Ini menjadi titik terang bagi para muda-mudi yang hobi men...

PELUANG KECEWA LEBIH BANYAK TERJADI

Rasanya memang sangat kecewa ketika kita mengalami hal yang tidak disukai atau memaksakan untuk melakukan hal yang tidak kita sukai. Bahkan bila sampai melakukan kesalahan, yang bermunculan di dunia ini bukan sebuah advice atau saran justru yang muncul adalah sebuah ungkapan yang tidak mengenakkan bahkan sampai menyakiti hati. Apakah hal itu pantas dilakukan oleh manusia? Apakah seseorang yang mengalami perlakuan seperti itu bisa menganggap bahwa pelaku telah mati nuraninya? Boleh jadi, peristiwa seperti ini hampir masuk dengan lagu karya Three Days Grace yang berjudul "Someone Who Cares" yang tidak sengaja saya dengar ketika saya pulang dari Pekalongan menuju Sukabumi akhir November lalu.




Every street in this city
Is the same to me
Everyone's got a place to be
But there's no room for me
Am I to blame?
When the guilt and the shame hang over me
Like a dark cloud,
That chases you down in the pouring rain.

Dalam lirik pertama ini, saya meresapi bahwa inilah yang sering dialami oleh banyak orang yang memiliki perbedaan dari mayoritas, misalnya pada perbedaan cara pandang, cara berpikir, cara berkomunikasi dan cara hidup yang bahkan baik untuk dirinya. 
Namun, kebanyakan mayoritas menginginkan untuk solidaritas tanpa pandang apapun, padahal belum tentu semuanya akan tunduk pada pendapat mayoritas, dan jika ada satu orang yang tidak mengikuti maka tak ayal orang tersebut akan mengalami tindakan yang tidak mengenakkan.
Misal pada suatu kelas atau kelompok, ada satu orang yang menonjol, atau satu orang yang memiliki ciri yang berbeda bahkan menyimpang dari mayoritasnya, maka ia akan dihabisi baik secara verbal maupun fisik.
Tetapi, biasanya untuk mengawali penetrasi tersebut seseorang akan diasingkan atau bisa saja mendapat perlakuan verbal yang menurut saya sangat mengganggu kedaulatan dan cara pikir orang tersebut.
Dan dalam lirik ini, penulis lirik lagu menjelaskan bahwa banyak sekali ruang yang sama atau kondisi yang sama dengannya tetapi hanya dia yang merasa diasingkan, kemudian ia berintrospeksi diri apakah dia tak pantas, tak mendatangkan keuntungan bahkan menyalahkan diri sendiri.
Dan tampaknya ini yang sering terjadi di negeri kita, dimana banyak sekali orang menyalahkan diri sendiri karena tidak memiliki teman atau ruang untuk mengutarakan apa yang dialami dan dirasakan. Hingga pada akhirnya ia menyatakan pada semuanya dengan lirik seperti ini,

---

It's so hard to find someone
Who cares about you,
But it's easy enough to find someone
Who looks down on you
Why is it so hard to find someone
Who cares about you?
When it's easy enough to find someone
Who looks down on you

---

Kita kesulitan menemukan orang yang peduli dengan kita, dan sangat mudah sekali mendapat orang yang bukan hanya tidak peduli, tetapi justru mendapat judge yang sangat fatal.
Dan faktanya, orang-orang di sekitar kita cenderung menindak orang yang melebihi mereka daripada memberikan dukungan atau sekedar pujian untuk membuat orang-orang yang dianggap berbeda menjadi lebih semangat lagi.
Misalnya ada orang yang lebih senang membebaskan dirinya dengan apa yang ia mau, terkadang orang yang seperti ini yang dianggap membahayakan karena dapat membuat reputasi mereka menjadi kacau jika orang ini masuk ke dalam kelompok atau kelas mereka yang suka nyinyir.
Namun, terlepas dari itu semua, sesungguhnya saya pun mengalami hal yang sama. Pertanyaan sering muncul dalam pikiran, apakah aku memang salah atau benar-benar salah dengan membebaskan diri atau menganggap bahwa saya orang merdeka? I can't find answer about that question.
Ketika saya bertanya, justru ssaya salah. Ketika saya mencari jawaban secara otodidak, saya meragukannya dan justru banyak yang menyangka bahwa saya aneh. Ketika sayakita berpedoman bahwa dengan kemerdekaan saya bisa merasakan indahnya cara Tuhan memberikan hidup pada saya.
Tapi apakah itu worth it? Ternyata, who cares about me, are they agree by my opinion? I think i should be approved i will do something to be myself, but i can be anything what make me happy. Dan seketika, saya memang diterima dengan apa yang saya mau, sayangnya hanya sebagian saja.
Namun, apakah saya kecewa? Iya, saya kecewa dengan diri saya sendiri yang memenuhi pikiran saya dengan sangkaan dan overthinking yang dilakukan sepanjang waktu. Selama saya adalah teman mereka, mereka akan welcome kepada saya.
Dan sebenarnya keresahan seperti memungkinkan saya untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk kecewa atau biasa saja. Saya lebih menyukai hal yang membebaskan diri saya dalam berkarya, jika ada yang tidak suka dengan apa yang aku lakukan, aku hanya mengingat satu hal: aku ingin diingat dan dikenang di kala tiada. 
Dan pelajaran penting di saat kecewa adalah jangan merasa kecewa, memang begitulah kehidupan yang kita hanya perlu kesabaran dan coba menjadi diri lebih baik.

Memang mengecewakan ketika kita diinjak, dicaci, diremehkan, apalagi sampai mengacu pada harga diri, tapi ingatlah satu hal: manusia tidak diberi kesempatan untuk jahat. Karena Tuhan memberikanmu cinta sejak kita belum dilahirkan, dan memang sudah tugas manusia untuk memancarkan cahaya cinta pada orang lain. Ini berdasarkan obrolan dengan berbagai sudut pandang agama dan budaya kalau manusia tidak sepatutnya berbuat jahat, dan biarkan yang jahat hadir dalam kehidupanmu karena itulah kodrat hidup, ada hitam dan putih untuk saling melengkapi.
Jadi, kembali kepada kekecewaan, kita berhak kecewa tetapi kita tidak berhak berbuat jahat kepada siapapun. Agama sudah mengatur dan memberikan kemuliaan untuk manusia yang berbuat baik, sekalipun ia dicaci atau diperlakukan jahat.

Comments

Popular posts from this blog

MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

AKU MENULIS INI KETIKA TERINGAT PERTENGKARAN SEBAB ROKOK

RUMAH YANG SEBENARNYA