MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

Image
Literasi saat ini mulai digemakan kembali dan akhir-akhir ini banyak sekali penggagas sebuah ruang untuk mempelajari hal literasi. Ada ratusan groupchat WhatsApp dan Telegram Messenger, bahkan sampai merebak ke Instagram dan Facebook. Dari sekian banyaknya ruang literasi ini juga banyak sekali di antara mereka yang mengadakan event, seminar bahkan sampai ada yang membuat penerbitan indie. Suatu pencapaian yang sangat luar biasa, dan mestinya apresiasi atas karya sastra yang dilahirkan menuai banyak prestasi baik dari ruang literasi maupun individunya. Kemampuan tiap individu sangat diasah sempurna di ruang literasi tersebut, dan berbagai skill atau bakat yang tidak muncul di kala sekolah ternyata bisa bermunculan di ruang ini. Dan faktor merebaknya literasi ini adalah terbukanya ruang menulis untuk siapapun. Jadi, ada platform yang benar-benar menerima tulisan setiap individu untuk diterbitkan di media online dan media sosial. Ini menjadi titik terang bagi para muda-mudi yang hobi men...

PESAN-PESAN LIBURAN YANG BARU SAJA DITEMUKAN (2)

___
Tears stream,
down your face
I promise you, i will learn from my mistake.

Lights will guide to home
And ignite your bone
And i will try to fix you

Pada akhirnya, semua liburan berbuah sia-sia. Protes terhadap diri sendiri, kepada khalayak, keluarga dan saudara-saudara seakan-akan tidak membantu dan akhirnya terjatuh. "Fall down deeper!" Tidak dapat dipungkiri dan sangat disayangkan ketika penyakit pikiran mengganggu kita. Pusing, pening kadang tak sembuh dalam dua atau tiga hari bahkan efek kerasnya sampai sulit mencerna obrolan orang lain, sosialisasi dan sampai pada perbincangan di media sosial.

Introvert bukan, autisme juga bukan. Entah apa yang menggerogoti tubuh dan pikiranku ini. Aku sendiri tidak yakin pada hal yang semestinya menyenangkan justru menjadi ancaman serius. Ini aneh! So weird to doing it, and i can't survive about very insecure and underpressuring. I don't know who am i, i don't know if i told to everyone about me. That's so good joke! That's so problem to me. Ya, aku mungkin menyerah dalam pandangan orang lain, tetapi aku masih bergerak dan melangkah.


Memang tidak mudah untuk menentukan apa yang harus kita hadapi dan kita capai, kadang pikiran dan hati tidak selaras atau bahkan berbanding terbalik. Kondisi seperti itu sangat menyakitkan, ketika kita menginginkan sesuatu yang terbaik, mendapatkan yang terbaik atau memberikan yang terbaik, kadang kita tidak merasakan kepuasan malah justru menyedihkan dan pahit sekali untuk dirasakan.

Aku sendiri yang merasakan hal itu, dimana kondisi pikiran mulai kalut ketika dua tahun silam sampai pada titik depresi yang tidak membahayakan. Depresi inilah yang membuatku tidak bisa diam, keinginan untuk memuaskan diri dan bahayanya adalah menginginkan sesuatu yang menurut pikiranku belum dapat terwujudkan secara instan. Berat, terasa capek, letih juga bercampur aduk menjadi satu, hal ini disebabkan oleh banyak ambisi dan tidak terkontrolnya pikiran untuk tidak berhalusinasi atau negative thinking.

Ada beberapa proses dimana hal tersebut dapat membantu agar tidak terjadi depresi yang berlebihan apalagi menginjak kronis. Jika kebanyakan orang memilih untuk refreshing, bagiku hal tersebut memang efektif manajemen diri, tetapi pada dasarnya untuk kesehatan dompet tidak terlalu membantu, apalagi masih musim karantina seperti ini. Heuheuheu.

Saat liburan yang menyebalkan ini setidaknya banyak kejadian yang tidak pernah aku alami sebelumnya, bukan sebab pandemi dan koleganya, tetapi ini memang murni dari diri sendiri yaitu sebuah kebosanan akan keramaian yang kebanyakan orang menyukai itu. Antara bosan dan ramai selalu menjadi hal yang meribetkanku, apalagi ketika banyak suara-suara sumbang, pilu, parau atau serak sekalipun. Parahnya lagi, tidak ada bahasan penting selain menceritakan kelebihan dan kekurangan apapun. Entah, kebingungan aku. Entah juga, aku tak ingin hidup di antara dua garis yang saling berentetan, lebih enak dan asyik ketika kesunyian dicampur dengan nada-nada harmoni atau puitis, itu malah justru lebih baik. Tetapi, aku ingin di tengah; tidak mendesak keramaian yang membosankan dan tidak terlarut dalam kesunyian yang mencintaiku.

Kejadian bermula dari ramainya media sosial, pasar online, teras rumah, kandang burung hantu sampai adu jangkrik sangat memecah konsentrasi di tubuh ini. Semula liburan adalah hal menyenangkan, justru membuatku muak, ditambah dengan diliburkannya jadwal kuliah yang tak kunjung berhenti. Maret-Mei adalah bulan-bulanan untuk jiwaku yang tenggelam oleh ke-ambyar-an. Hanya bisa mengisi hari-hari dengan bermusik di tepi jalan, mengais puisi di antara pepohonan, barangkali saja petani dan perompak saling adu badik yang tak sengaja memantikkan sajak yang bergemirincing. Asyik bukan?



Berlanjut ke lautan, akhirnya aku menemukan banyak fakta, bahwa kesunyian bukanlah sepi yang tersengaja, adakalanya sepi yang dibuat oleh manusia adalah direka oleh orang lain yang sengaja mematikan jiwanya dengan sunyi atau ditinggalkan. Rasa kesunyian yang berujung anarkis merupakan ujung dari pengakhiran yang tidak diikhlaskan. Rasa sunyi yang melahirkan tangis hanyalah ketidakrelaan atas sesuatu yang pergi dan memaksa menetap. Rasa sunyi, sunyi dan all about lonely adalah semu dan ilusi, selalu dibuat-buat dengan praduga-praduga yang kolaps, tidak jelas, abstrak bahkan lebih ke penderitaan dan penindasan.

Akhir kata, hanya ingin ucapkan; "Jangan menyepi, masih ada kata menepi. Jangan berpulang dan anarkis, masih ada kata pantang dan saling harmonis."

---
Arief Santoso
Sukabumi, 10 April-5 Mei 2020

Comments

Popular posts from this blog

MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

AKU MENULIS INI KETIKA TERINGAT PERTENGKARAN SEBAB ROKOK

RUMAH YANG SEBENARNYA