MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

Image
Literasi saat ini mulai digemakan kembali dan akhir-akhir ini banyak sekali penggagas sebuah ruang untuk mempelajari hal literasi. Ada ratusan groupchat WhatsApp dan Telegram Messenger, bahkan sampai merebak ke Instagram dan Facebook. Dari sekian banyaknya ruang literasi ini juga banyak sekali di antara mereka yang mengadakan event, seminar bahkan sampai ada yang membuat penerbitan indie. Suatu pencapaian yang sangat luar biasa, dan mestinya apresiasi atas karya sastra yang dilahirkan menuai banyak prestasi baik dari ruang literasi maupun individunya. Kemampuan tiap individu sangat diasah sempurna di ruang literasi tersebut, dan berbagai skill atau bakat yang tidak muncul di kala sekolah ternyata bisa bermunculan di ruang ini. Dan faktor merebaknya literasi ini adalah terbukanya ruang menulis untuk siapapun. Jadi, ada platform yang benar-benar menerima tulisan setiap individu untuk diterbitkan di media online dan media sosial. Ini menjadi titik terang bagi para muda-mudi yang hobi men...

MEMBUKA PIKIRAN YANG SELALU TERNGIANG PERTANYAAN YANG BELUM MEMUASKAN



Apa jadinya bila kita tak mampu untuk bernapas dan tak memiliki kuasa atas kehidupan kita sendiri? Apa jadinya bila keterikatan dengn segala yang diciptakan semakin dipersempit dan tiba-tiba hilang? Apakah yang terjadi bila kita tak mempercayai bahwa manusia adalah sama dalam konteks outer of human's body? Bagaimana bila kita tak tahu, bahwa kita hanyalah manusia yang bernama A, B, dan seterusnya, yang sering mentransformasikan diri sebagai C, D atau menjadi E,F dan sebagainya.

Kita berada di lingkungan literasi. Ada yang menjadi penulis, pembaca, analis, editor, penerbit dan lain-lain, yang tidak kita sadari bahwa semua yang tersemat dalam diri kita hanyalah tanda bahwa kodrat kita ditambah dengan literacy softskill. Bahkan, kita mengakui bahwa kita jago, kita mampu dan kita bisa melakukan itu semua, padahal sebenarnya itu hanyalah sematan bagi kita yang patut kita tingkatkan, dinikmati dan syukuri. "A person could be everything if he can and we can't judge him."

Kita yang hidup di lingkungan literasi online memang sangat membutuhkan orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Tidak perlu ahli sih sebenarnya, cuman minimal yang bisa menyampaikan uneg-unegnya atau pengalamannya yang mengasyikkan. Justru, ketika kita sering menuliskan sesuatu, sesering pula kita dapat membaca pikiran dan hati kita agar tergerak untuk memajukan bahkan mengembangkan literasi di Indonesia.

Tapi, satu hal yang harus kalian tahu; apa sih literasi? Apakah literasi sama dengan sastra?

Literasi dari namanya saja terlihat seperti kegiatan membaca dan menulis. Padahal, arti luasnya adalah membaca segala aspek kehidupan yang kita alami kemudian menuliskannya dalam bentuk apapun, bisa dengan bahasa sastra, atau dengan bahasa formal dan akademik, atau bahkan dengan grafis-grafis yang menarik seperti konten dan lain sebagainya.

Lalu, hubungannya literasi dengan sastra itu apa? Relasi keduanya merupakan satu paduan yang sangat erat. Ketika kita ber-literasi, maka kita juga menggunakan sastra. Sebaliknya, ketika kita bersastra, maka secara tidak langsung kita juga melakukan kegiatan literasi.


Dan atraktifnya, sastra dan literasi ini sangat mendukung diri kita untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pun kita banyak mengetahui kata-kata yang menarik, kata yang bermajas, yang sepadan yang sifatnya puitis, dan juga dengan mudahnya kita merangkai kata menjadi lebih bermakna. Betapa banyak keuntungan yang kita dapat ketika kita bersastra dan berliterasi. Kita jadi makin tahu soal kalimat yang asyik, jadi tahu soal kata-kata serapan yang menjadi diksi dalam sebuah karya kita.

Coba kita lihat lingkungan literasi di Indonesia. Memang sudah banyak kemudahan dan fasilitas, seperti blog, wordpress, dan lain-lain, ada juga platform yang sangat antusias menerima tulisan-tulisan kita, seperti Kompas, Tempo, Jawa Pos, Majalah Kampus. Ada juga yang lebih menarik seperti Wattpad, Storial.co, Mojok.co, Basabasi dan penerbit-penerbit yang memiliki platform untuk menuangkan ide dan karya para penulis.

Nah, sebenarnya sudah banyak sekali fasilitas yang ada. Tetapi, masih kurang peminat dalam mengapresiasi dan menghargai sebuah karya. Contoh kecil, kita sering melihat sliweran karya-karya di koran, majalah, feed social media, bahkan di grup WhatsApp juga banyak sekali. Nah, coba kita membuka mata dan hati untuk menerima semua yang ada. Ini bisa melatih kita untuk saling menghargai, belajar hal yang baru, atau bahkan bisa menjadi ide atau inspirasi kalian dalam menulis. Bayangkan, bila kita tak diajarkan cara menghargai karya, bisa-bisa semua orang bahkan penulis sekalipun akan mundur dari jabatannya sebagai penulis.

Minimal, kita menghargai, maksimalnya kita membeli karyanya. Tapi, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mengapresiasi dengan cara membeli.

Pertama, jangan membeli buku bajakan. Ini merugikan penulis, penerbit, editor, dan segala yang ada di dalam pembuatan dan penerbitan buku tersebut. Selain murah, dampak negatif yang ditimbulkan juga sangat berat bagi pembeli.

Kedua, pilihlah yang sesuai dengan kamu. Jangan coba-coba kamu membeli sembarang buku, yang nantinya tidak akan kamu baca atau bahkan membacanya hanya sekali dua kali.

Ketiga, setelah membeli, usahakan dibaca. Jangan hanya membeli dan membeli, oke sih nggak apa-apa dengan dalih mengoleksi dan meminjamkannya kepada teman sejawat, tetapi minimal kita bisa mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh si penulis.

Terakhir, jangan mengakui kemampuan. Maksudnya? Kemampuan membeli atau membaca? Bisa jadi dua-duanya. Kita boleh membeli dan membaca, asalkan kita bisa menggali diri supaya lebih merasakan kerendahan hati. Bisa kita terapkan dalam menyalurkan gagasan, memberikan solusi kepada yang belum bisa membeli, ataupun bisa juga dengan berkontribusi secara langsung.

Sukabumi, 20 Januari 2020; 01:52 WIB

Comments

Popular posts from this blog

MENJADI MANUSIA LITERER DAN BERJIWA ATRAKTIF

AKU MENULIS INI KETIKA TERINGAT PERTENGKARAN SEBAB ROKOK

RUMAH YANG SEBENARNYA