Syarat wajib hidup manusia adalah memiliki prinsip dan kemerdekaan yang utuh. Tanpa kedua itu, maka kita akan terombang-ambing dengan ketidakjelasan hidup. Juga tanpa kedua pilar tersebut maka fungsi jiwa, akal dan hatimu tidak berjalan dengan baik karena masih ada gelombang yang bisa mengubah prinsip hidup yang dimana kita tidak mempersiapkannya sejak awal.
Kedua elemen tersebut menjadi pondasi hidup manusia untuk menentukan kita akan menuju ke mana dan untuk apa kita hidup. Selama ini masih banyak manusia tidak mementingkan prinsip yang kuat, sehingga hidupnya tidak jelas bahkan bisa membunuh diri seseorang tersebut. Sedangkan bila kita tak mempunyai kedaulatan atau kemerdekaan diri, maka yang terjadi kita mudah untuk dijajah dan diperdaya oleh siapapun. Maka, menurut saya, prinsip yang kuat dan kedaulatan diri adalah harga mati bagi seluruh manusia.
Saya akan mengulas kedua elemen dengan pengalaman saya sendiri, karena bagi saya pengetahuan datang dari diri sendiri dan diimplementasikan dengan perbuatan yang berkala, sehingga dapat memunculkan sebuah pengetahuan yang baru. Saya juga memunculkan sebuah gagasan prinsip hidup yang saya sebut dengan sapta dharma atau tujuh poin yang harus saya lakukan selama hidup dan menjadi tujuan hidup saya. Tujuh poin tersebut saya singkat menjadi "WUASEK", di antaranya;
1) Wawasan yang Luas
2) Ulet dalam Bertindak
3) Unggul dalam Religiusitas
4) Aktif dalam Berbagai Problematika Masyarakat
5) Sinergik berlandaskan Intelektualitas
6) Edukatif dan Entrepreneur
7) Kreatif, Kritis dan Kebangsaan
Hal ini saya buat agar mudah dikenal dan dihafal oleh semua orang yang ingin mengikuti prinsip saya, walaupun pada kenyataannya akan banyak kreativitas banyak orang yang bahkan melebihi saya. Dengan begitu, sebuah prinsip yang bermula dengan ketakjuban akan menjadi dapat dipahami oleh khalayak ramai, syukur bisa diterapkan di kehidupan mereka.
Prinsip Hidup yang Kuat menjadi Landasan Hidup Manusia
Hidup bukan hanya melaju lurus ke jalan Tuhan, tetapi masih banyak jalan lain untuk tetap lurus pada jalan Tuhan. Berbagai pengalaman yang saya lakukan tentang bagaimana prinsip hidup disusun, dilaksanakan dan hasilnya bermula pada perenungan diri. Saya menanyai diri saya sendiri; 'Untuk apa saya hidup jika hanya duduk di antara pekerja yang sibuk?' , 'Untuk apa saya hidup jika hanya bermodal soft-skill yang ada?' , dan masih banyak lagi perenungan yang akhirnya selama 3 bulan saya rancang dan susun. Tahapan pertama, prinsip tersebut hanya ada tiga, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan dan Kegilaan. Dalam hal ini saya merenungi apa saja rahasia Tuhan yang akan hadir di saat aku bertapa dengan tertidur tanpa memejamkan mata. Prinsip Ketuhanan ini bermaksud pada suatu kalimat yang aku ciptakan, 'Tuhan ada dimana-mana, Tuhan ada di jiwa manusia.' Dalam penemuan prinsip ini awal mulanya saya berdiskusi kepada teman-teman yang memang saya percayai mereka lebih dari saya, melebihi kelebihan istilahnya.
Istilah 'Kemanusiaan' juga masih berorientasi pada prinsip Ketuhanan yaitu bahwasanya manusia adalah bagian dari cahaya cinta Tuhan. Maka dari itu, sangat penting meningkatkan adab, tata krama, perilaku baik yang memang nyatanya tanpa sadari kita harus mempelajari itu. Karena semua manusia adalah sama derajatnya, dan dilihat dari tingkat Ketuhanan dan Kemanusiaannya.
Istilah 'Kegilaan' di sini adalah ketika saya menggilai segala positivisme dan produktivitas seseorang yang percaya bahwa intervensi Tuhan dan manusia itu menyatu di dalam batin dan pikirannya. Gila terhadap positif adalah mencintai segala hal kebaikan, melaksanakannya dengan sepenuh hati dan menghasilkan output yang positif kepada seluruh manusia.
Prinsip hidup saya tersebut tidak bisa bertahan lama karena perlu adanya peluasan yang spesifik tentang prinsip hidup ini. Diperlukan banyak referensi dan perenungan yang saya lakukan guna meningkatkan taraf hidup yang ber-Tuhan dan sosialitas yang tinggi.
Perjalanan perenungan dan observasi lingkungan hanya berjalan 2,5 bulan, itu pun belum dengan kegiatan yang lainnya. Dan syukur Tuhan atas segala kehendak-Nya, saya dapat memunculkan sebuah gagasam ini yang tercipta dari hal yang gila.
Menjadi manusia yang bebas mungkin menyulitkan banyak orang, tetapi hakikat manusia adalah bebas dari kurungan dan batasam untuk berpikir dan menjiwai segala kebesaran cipta-Nya. Terkadang kita terbatasi oleh perihal yang beriming-iming dan menyiksa sebelum disiksa. Ada banyak dogma yang dihasilkan hanya untuk menakuti dan membuat iri banyak orang, sebenarnya sudahi saja dogma itu. Fokuskan diri kepada Tuhan semata, karena semuanya adalah kita mengabdi pada Tuhan. Karena Tuhan Maha Segalanya, saya jadi terpikir, "Mungkinkah Yang Maha Kasih Sayang murka melihat kita yang berdosa? Mungkinkah Dia Maha Kuasa marah ketika kita melakukan kesalahan?"
Berbuatlah hanya semata-mata mengharap ridho Tuhan, janganlah mengharap pada manusia. Harapan bisa pupus karena terlalu bergantung ada manusia. Sesungguhnya Tuhan berintervensi dalam kehidupan kita semua, dan juga selalu memberikan yang terbaik kepada kita meskipun jalan menuju yang terbaik terkadang tak semudah hasil yang dicapai.
---
Sukabumi, November 2019
Comments
Post a Comment